Update: My Second Costume Kamen Rider W Fang Joker

Update, lupa ditaroh di sini

Kista Epidermal

DEFINISI

Kista epidermal atau juga disebut dengan kista sebasea adalah kumpulan material seperti keratin, biasanya putih, licin, mudah digerakkan, dan cheesy di dalam dinding kista. Jenis kista ini merupakan yang paling umum. Secara klinis, kista epidermal muncul sebagai nodul bulat, keras berwarna daging. Kista epidermal umumnya memiliki lubang kecil yang berhubungan dengan kulit namun tidak selalu tampak jelas. Kista epidermal dapat terjadi di bagian kulit mana saja, akan tetapi lebih banyak ditemui di bagian wajah, scalp, telinga, dada, dan punggung. Tulang, payudara, genital, dan intracranial jarang ditemukan pada kista epidermal. Mukosa okuler dan oral juga bisa terkena serta di konjungtiva palpebra, bibir, mukosa mulut, lidah, skrotum, dan uvula.

Kista epidermal merupakan tumor jinak yang tidak perlu dihilangkan kecuali mengganggu secara kosmetik atau terinfeksi. Kista epidermal yang terinfeksi berwarna merah, bengkak, dan terasa nyeri. Bila hal ini terjadi, harus diterapi dengan antibiotik dan dieksisi bila sudah tidak mengalami inflamasi. Kunci dari penghilangan kista epidermal adalah menghilangkan seluruh dinding kista.

EPIDEMIOLOGI

Tidak ada predileksi menurut ras, namum kista epidermal lebih banyak dialami oleh individu dengan kulit gelap. Pada studi pasien Indian, 63% kista mengandung pigmen melanin.

Kista epidermal lebih banyak dua kali ditemukan pada pasien pria dibanding dengan pasien wanita. Kista epidermal dapat terjadi di usia kapanpun, namun banyak ditemukan kasus pada decade ketiga sampai keempat. Kista epidermal kecil yang disebut dengan millia umum ditemukan di neonatus.

PATOFISIOOGI

Kista epidermal terjadi akibat proliferasi sel epidermal dalam ruang yang sirkumskrip pada dermis. Pada analisis kista epidermal, struktur dan pola lipidnya sama seperti pada sel epidermis. Kista epidermis mengekspresikan sitokeratin 1 dan 10. Sumber dari epidermis ini hamper selalu dari infundibulum dari folikel rambut.

Inflamasi dimediasi oleh bagian berkeratin pada kista epdiermal. Pada penelitian, ekstrak keratin ini bersifat kemotaktif untuk PMN.

Penilitian menyebutkan HPV (Human Papilloma Virus) dan paparan sinar UV berperan dalam pembentukan kista epidermal.

Cara perubahan kista epidermal menjadi bersifat kanker belum diketahui secara pasti (walaupun jarang sekali kista epidermal berkembang menjadi tumor ganas). Pada kista epidermis dengan karsinoma, hasil imunohistokimia untuk HPV negatif, yang dapat disimpulkan HPV tidak mempengaruhi perubahan menjadi Karsinoma sel skuamosa. Iritasi kronik dan trauma berulang pada batas epitel dari kista epidermis berperan dalam transformasi keganasan, akan tetapi bagaimana hubungannya masih belum diketahui.

 

HISTOPATOLOGI

Pada pemeriksaan histopatologi, kista epidermal dibatasi dengan epitel skuamosa berlapis yang mengandung lapisan granuler. Keratin terlaminisasi ditemukan dalam kista. Respon inflamasi dapat ditemukan pada kista yang rupture. Kista yang sudah tua dapat terkalsifikasi.

PENYEBAB

Kista epidermal terbentuk dari beberapa mekanisme. Kista dapat diakibatkan sekuestrasi dari sisa epidermal selama kehidupan embrionik, oklusi dari unit pilosebaseus, atau trauma atau implantasi bedah dengan elemen eptelial. Infeksi HPV , paparan UV, dan oklusi kelenjar ekrin dapat menjadi faktor tambahan perkembangan kista epidermal palmoplantar. HPV juga telah teridentifikasi dalam kista epidermal nonpalmoplantar.

  • Kista epidermal kongenital dari fontanel anterior atau di bagian orogenital dapat diperkirakan oleh hasil sekuestrasi atau trapping sisa epidermal selama fusi embrionik selama perkembangan. Lesi di bibir dan mulut berkorelasi dengan fusi yang tidak sempurna dari lengkung brankial, sedangkan lesi genital disebabkan oleh  penutupan tak sempurna dari lipatan genital.
  • Semua proses kejinakan dan keganasan yang mempengaruhi atau tumbuh dekat unit pilosebaseus dapat berujung pada oklusi atau tumbukan  folikular ostia with formasi kista yang berikutnya. Kista dengan distrubusi yang bersifat acneiform umumnya akibat penyumbatan folikular. Pada manula, cedera sinar matahari yang terakumulasi dapat merusak unit pilosebaseus, menyebabkan abnormalitas seperti sumbatan komedo,  hiperkornifikasi, keduanya dapat menimbulkan kista epidermal. Kondisi ini disebut juga Sindrom Favre-Racouchot.
  • Kista epidermal yang sebenarnya diakibatkan impantasi elemen epidermal pada dermis. Beberapa cedera, khususnya tipe crushing, diasosiakan dengan subungual atau  kista epidermal terminal phalanges. Cedera hancur ketika membanting pintu mobil pada bagian digital sering dilaporkan. Prosedur bedah secara teori dapat menimbulkan kista epidermal. Formasi kista epidermal multipel dilaporkan setelah operasi plastik bagian hidung, pembesaran payudara, dan sedot lemak. Penggunaan cangkok dermal, cangkok miokutaneus, dan biopsy jarum juga diasosiasikan dengan timbulnya kista epidermal.
  • Sindrom herediter tertentu berasosisasi dengan kista epidermal, seperti Sindrom Gardner, Sindrom nevus sel basal, dan pachyonychia kongenital. Idiopathic scrotal calcinosis dapat ditemukan pada fase akhir dari kalsifikasi distrofik pada kista epidermal.

DIAGNOSIS BANDING

Kista Pilaris, Steatokistoma simpleks/multipleks, Lipoma, Kista Dermoid, Pachonychia kongenital, Sindrom Gartner, Kalsinosis Kutis, Millia

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pemeriksaan laboratorium tidak diperlukan, namun bila terjadi infeksi berulang atau tidak ada respon antibiotik, pengkulturan dapat dilakukan.

Bila kista epidermal ditemukan pada daerah yang tidak biasa terkena, seperti payudara, tulang, atau lokasi intracranial dapat dilakukan pencitraan dengan Ultrasonografi, Radiografi, CT Scan atau MRI.

Fine-needle aspiration juga dapat dilakukan untuk mendiagnosis kista epidermal di payudara. Pemeriksaan smears material yang diaspirasi dan diwarnai dengan Wright-Giemsa menunjukkan keratinosit berinti dan material keratin bergelombang.

PENGOBATAN

Pada umumnya kista epidermal tidak memerlukan pengobatan apapun. Bila menimbulkan gangguan dapat dieksisi, atau diseksi seluruh dinding kista dengan insisi. Bila bagian dinding tertinggal, kista dapat kambuh. Destruksi kista dengan kuret, cairan kimiawi, atau elektrodesikasi memberikan hasil kurang memuaskan.

Bila terjadi inflamasi, dapat dilakukan injeksi intralesi dengan triamcinolone (amcort, aristocort) yang dapat mensupresi migrasi PMN dan membuat sempit celah kapiler pembuluh darah. Antibiotik oral juga diberi bila perlu.

KOMPLIKASI

Komplikasi sangat jarang terjadi, termasuk infeksi, scarring pada penghilangan, dan kekambuhan. Keganasan pada kista epidermal sangat jarang.

 

DAFTAR PUSTAKA

1Hanson LJ. Epidermoid Cyst. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/1061582 pada tanggal 15 November 2010 pada pukul 10.55 WIB

2Brannon H. Epidermal Cyst. Diunduh dari http://dermatology.about.com/cs/benignlesions/g/epidermcyst.htm pada tanggal 15 November 2010 pada pukul 11.11 WIB

3Putra IB. Tumor-tumor Jinak Kulit. Diunduh dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3410/1/ 08E00609.pdf pada tanggal 15 November 2010 pada pukul 10.45 WIB

4FAM A Physician. Minimal Excision Technique for Removal of an Epidermoid Cyst. Diunduh dari http://www.aafp.org/afp/2002/0401/p1423.html pada tanggal 15 November 2010 pada pukul 10.36 WIB

Pedikulosis dan Skabies

PEDIKULOSIS

Pendahuluan:

Infeksi kulit/rambut pada manusia yang disebabkan oleh Pediculosis (dari family Pediculidae) dan yang menyerang manusia adalah Pediculus humanus yang bersifat parasit obligat (di dasar rambut) yang artinya harus menghisap darah manusia untuk mempertahankan hidup. Pedikulosis juga sangat mudah untuk menular dan dapat menularkan tifus endemik dan gatal kambuhan.

Klasifikasi:

1. Pediculus humanus capitis

2. Pediculus humanus corporis

3. Pthirus pubis (dulu Pediculus pubis)

 

A.        PEDIKULOSIS KAPITIS

a.       Definisi

Infeksi kulit dan rambut kepala yang disebabkan Pediculus humanus variasi capitis.

b.      Epidemiologi

Penyakit ini lebih menyerang anak-anak dan cepat meluas di lingkungan yang padat seperti asrama dan panti asuhan. Ditambah lagi jika kondisi hygiene tidak baik (misalnya jarang membersihkan rambut). Cara penula-rannya melalui peratntara, misalnya sisir, kasur, topi, dan bantal. Lebih banyak terjadi di kaum perempuan.

c.       Etiologi

Kutu ini mempunyai 2 mata dan 3 pasang kaki, berwarna abu-abu dan menjadi kemerahan jika telah menghisap darah. BEtina mempunyai ukuran yang lebih besar (panjang 1,2-3,2 mm lebar lebih kurang setengah panjangnya) daripada yang jantan  (sekaligus jumlahnya lebih sedikit).

Siklus hidupnya melalui stadium telur, larva, nimfa, dan dewasa. Telur (nits) diletakkan di sepanjang rambut dan mengikuti tumbuhnya rambut (makin ke ujung terdapat telur yang lebih panjang).

d.      Patogenesis

Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk menghilangkan gatal. Gatal ditimbulkan oleh liur dan eksreta kutu yang dikeluarkan ke kulit sewaktu menghisap darah.

e.      Gejala Klinis

Gejala yang dominan yaitu rasa gatal (terutama di daerah oksipital dan temporal). Karen ada garukan, maka terjadi erosi, ekskoriasi, dan infeksi sekunder (ada pus dan krusta). Bila infeksi sekunder berat, rambut akan menggumpal karena banyaknya pus dan krusta (plikapelonika) dan disertai pembesaran kelenjar getah bening regional (oksiput dan retroaurikular). Dalam keadaan ini menimbulkan bau busuk.

f.        Pembantu Diagnosis

Caranya dengan menemukan kutu atau telur. Telur berwarna abu-abu dan mengkilat. Juga digunakan sinar Wood yang akan menampakkan telur dan kutu berfluoresensi.

g.       Diagnosis Banding

1.       Tinea kapitis               2.    Pioderma (impetigo krustosa)            3.     Dermatitis seboroik

h.      Pengobatan

Pengobatan dilakukan dengan memusnahkan semua kutu dan telur dan mengatasi infeksi sekunder.  Pengobatan terbaik dilakukan secara topical dengan malathion 0,5-1% dalam bentuk lotio atau spray. Caranya: malam sebelum tidur rambut dicucui dengan sabun kemudian dipakai losio malathion, lalu kepala ditutup dengan kain. Keesokan harinya rambut dicucilagi dengan sabun lalu disisir dengan sisir bergerigi halus dan rapat. Pengobatan diulang seminggu sekali bila masih terdapat kutu. Akan tetapi, obat ini sulit didapat.

Yang mudah didapat di Indonesia adalah krim gama benzene heksaklorida (gameksan) 1%. Cara pemakaian: setelah dioleskan lalu didiamkan 12 jam, kemudian dicuci dan disisir agar semua kutu dan telur terlepas. Jika masih ada telur, pengobatan diulang secara berkala. Obat lainnya adalah emulsi benzl benzoat 25%.

Untuk infeksi sekunder, sebaiknya rambut dicukur dan diobati dengan antibiotika sistemik dan/atau topical, lalu disusul dengan obat yang telah disebutkan sebelumnya dalam bentuk shampoo. Higiene merupakan syarat supaya tidak terjadi residif.

Obat lainnya: Permethrin, Lindane, Pyrethrin.  NB : Pengulangan obat dilakukan 2-10 hari karena telur sulit diberantas.

 

B.        PEDIKULOSIS KORPORIS

a.       Definisi

Infeksi kulit yang disebabkan oleh Pediculus humanus corporis.

b.      Epidemiologi

Penyakit ini lebih menyerang dewasa terutama pada orang dengan hygiene buruk, misalnya pengembala karena mereka jarang mandi dan jarang mengganti dan mencuci pakaian, karena itu penyakit ini sering disebut Vagabond. Hal ini disebabkan kutu tidak melekat pada kulit, tetapi pada serat kapas di sela-sela lipatan pakaian dan hanya transien ke kulit untuk menghisap darah. Penyakit ini bersifat kosmopolit, lebih sering pada daerah beriklim dingin karena orang memakai baju tebal dan baju jarang dicuci.

c.       Cara Penularan

1.       Melalui pakaian

2.       Pada orang yang dadanya berambut terminal kutu ini dapat melekat pada rambut tersebut dan dapat ditularkan melalui kontak langsung.

d.      Etiologi

Pediculus humanus corporis betina mempunyai ukuran panjang 1,2-4,2 mm dan lebar kira-kira setengah panjangnya, sedangkan jantan relative lebih kecil. Siklus hidup sama dengan pedikulosis pada kepala.

e.      Patogenesis

Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk menghilangkan gatal. Gatal ditimbulkan oleh liur dan eksreta kutu yang dikeluarkan ke kulit sewaktu menghisap darah.

f.        Gejala Klinis

Umumnya hanya ditemukan kelainan berupa bekas garukan pada badan, karena gatal baru berkurang dengan garukan yang intens. Kadang timbul infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening regional.

g.       Pembantu Diagnosis

Caranya dengan menemukan kutu atau telur pada serat kapas pakaian.

h.      Diagnosis Banding

Neurotic excoriation

i.         Pengobatan

Pengobatan dengan krim gameksan 1% yang dioleskan tipis di seluruh tubuh dan didiamkan 24 jam, setelah itu baru pasien mandi. Jika belum sembuh bisa diulangi 4 hari kemudian. Obat lainnya yaitu emulsi benzil benzoat 25% dan bubuk malathion 2%. Pakaian deiberikan panas tinggi seperti direbus atau disetrika untuk membunuh telur dan kutu. Jika ada infeksi selunder bisa diberikan antibiotic sistemik atau topikal.

 

C.        PHTHIRUS PUBIS

a.       Definisi

Infeksi rambut di daerah pubis dan sekitarnya Phthirus pubis.

b.      Epidemiologi

Penyakit ini menyerang orang dewasa dan dapat digolongkan dalam PMS (Penyakit Menular Seksual), dapat juga menyerang daerah lain yang berambut, misalnya jenggot, kumis, bulu mata. Infeksi juga terjadi pada anak-anak di daerah alis dan bulu mata dan pada tepi batas rambut kepala.

c.       Cara Penularan

Umumnya dengan kontak langsung (juga hubungan seksual)

d.      Etiologi

Kutu ini berukuran panjang dan lebar yang sama (1-2 mm) pada betina. Pada jantan ukurannya lebih kecil.

e.      Patogenesis

Gejala gatal sama dengan pedikulosis.

f.        Gejala Klinis

Gejala yang dominan yaitu gatal di daerah pubis dan sekitarnya. Gatal dapat meluas sampai ke daerah abdomen dan dada, yang ditemukan bercak-bercak yang berwarna abu-abu-kebiruan yang disebut macula serulae. Walaupun kutu ini dapat dilihat dengan mata telanjang, kutu ini sulit dilepaskan karena kepalanya dimasukkan ke dalam muara folikel rambut.

Gejala lainnya adanya black dot, yaitu bercak-bercak hitam yang tampak jelas pada celana dalam berwarna cerah (atau putih) setelah bangun tidur. Bercak ini merupakan krusta darah yang disalahartikan sebagai hematuria. Kadang disertai dengan infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening regional.

g.       Pembantu Diagnosis

Mencari telur atau bentuk dewasa

h.      Diagnosis Banding

1.       Dermatitis Seboroika.            2.    Dermatomikosis

i.         Pengobatan

Pengobatan dengan krim gameksan 1% yang dioleskan tipis di seluruh tubuh dan didiamkan 24 jam, setelah itu baru pasien mandi. Jika belum sembuh bisa diulangi 4 hari kemudian. Obat lainnya yaitu emulsi benzil benzoat 25% dan bubuk malathion 2%. Pakaian deiberikan panas tinggi seperti direbus atau disetrika untuk membunuh telur dan kutu. Jika ada infeksi selunder bisa diberikan antibiotic sistemik atau topikal.

Sebaiknya rambut pubis dicukur dan pakaian dalam direbus dan disetrika. Mitra seksusal juga harus diperiksa dan jika perlu diobati.

 

SKABIES (The Itch, gudik, bulukan, gatal agogo)


a.       Pendahuluan

Pengetahun dasar diletakkan oleh Von Herbra, bapak Dermatologi Modern. Penyebabnya ditemukan pertamakali oleh Benomo pada tahun 1687 kemudian oleh Mellanby dilakukan percobaan induksi pada sukarelawan selama PD II.

b.      Definisi

Penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi yerhadap Sarcoptes scabiei var. hominis

c.       Epidemiologi

Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemic scabies. Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini: sosoekonomi rendah, hygiene yang buruk, hubungan seksual, kesalahan diagnosis, perkembanagn dermografik dan ekologik.  Penyakit ini juga digolongkan sebagai PMS.

d.      Cara penularan

1.       Kontak langsung (kontak kulit dengan kulit) misalnya jabat tangan, tidur bersama, atau hubungan seksual

2.       Kontak tak langsung, misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal, dll.

Penularannya oleh Sarcoptes scabiei betina yang sudah dibuahi atau kadang dalam bentuk larva. Ada juga Sarcoptes scabiei var. animalis pada mereka yang memelihara binatang peliharaan misalnya anjing.

e.      Etiologi

Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, super family Sarcoptes. Dengan varian yang menyerang manusia hominis.

Secara morfologik merupakan tungau kecil, oval, punggung cembung dan perutnya rata. Tungau ini translusen, berwarna putih kotor, dan tidak bermata.  Ukuran btina berkisar 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang jantan relatif kecil dengan ukuran 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang di depan sebagai alat melekat dan 2 di belakang (di betina ada rambut), sedangkan pada jantan pasangan kaki ketiga ada rambut dan keempat sebagai alat perekat.

Siklus hidup: Setelah kopulasi di atas kulit (jumlahnya kira-kira 10-15 tungau), jantan akan mati. Kemudian tungau betina yang sudah dibuahi menggali terowongan dalam startum korneum, dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari sambil meletakkan telurnya 2-4 butir sehari sampai jumlahnya mencapai 40-50, kemudian betina akan hidup sampai 30-60 hari. Kemudian telur menetas (dalam waktu 3-5 hari) dan menjadi larva dengan 3 pasang kaki. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa dengan 4 pasang kaki.

Siklus ini memerlukan waktu total 8-12 hari.

f.        Patogenesis

Kelainan disebabkan baik karena skabies maupun garukannya. Gatal yang terjadi disebabkan sensitisasi terhadap sekreta dan eksreta tungau yang memerlukan waktu sebulan setelah infestasi. Kelainan kulit menyerupai dermatitis juga ditemukan seperti papul, vesikel, urtika, dan lain-lain. Jika digaruk, terjadi erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder.

g.       Gejala Klinis

4 tanda kardinal:

1.       Pruritus nokturna (gatal pada malam hari karena aktivitas tungau tinggi pada suhu panas dan lembab)

2.       Menyerang manusia secara berkelompok (menyerang satu keluarga ataupun di lingkungan padat)

3.       Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat predileksi dengan warna putih keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, panjang 1 cm, pada ujung terowongan dijumpai papul atau vesikel.  Jika ada infeksi sekunder ruam kulit menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi). Tempat predileksi pada stratum korneum yang tipis: sela jari tangan, pergelangan tangan, siku luar, lipat ketiak depan, areola (wanita), umbilikus, bokong, genital eksterna (pria), perut bagian bawah. Pada wajah jarang terjadi. Pada bayi menyerang telapak tangan dan telapak kaki, aksila, dan skalp.

Circle of Hebra menunjukkan area dengan tempat predileksi tungau: Areola, Aksila, siku, pergelangan tangan, sela jari, umbilikus, abdomen bawah dan genitalia.

4. Menemukan tungau atau tahap diagnostik lainnya.

Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal ini.

Skabies Norwegia (skabies berkrusta)

Ditandai dengan dermatosis berkrusta pada tangan dan kaki (juga scalp), kuku yang distrofik, skuama generalisata, kadang ada hipekeratosis. Sangat menular tetapi rasa gatalnya sedikit. Tungau ditemukan dalam jumlah yang besar, biasanya dialami oleh penderita dengan retardasi mental, kelemahan fisik,malnutrisi,  gangguan imunologik, dan psikosis.

h.      Pembantu Diagnosis

Cara menemukan tungau:

1.       Cari mula-mula terowongan, kemudian pada ujung terlihat papul dan vesikel dicongkel dengan jarum dan diletakkan di atas kaca objek, lalu ditutup dengan kaca penutup,lalu dilihat dengan mikroskop.

2.       Dengan menyikat dengan sikat dan ditampung di atas selembar kertas putih dan dilihat dengan lup.

3.       Dengan biopsi irisan dengan cara lesi dijeit dengan 2 jari kemudian dibuat irisan tipis dengan pisau lalu diperiksa di mikroskop cahaya.

4.       Dengan biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan HE.

5.       Dengan memberi tinta di sekitar terowongan, terutama di bagian berbintik hitam.

i.         Diagnosing Banding

Penyakit ini disebut juga The Great Immitator karena menyerupai banyak penyakit kulit dengan keluhan gatal. Sebagai DD: prurigo, pedikulosis korporis, dermatitis.

j.        Pengobatan

Syarat obat ideal:

1.       Harus efektif terhadap semua stadium tungau

2.       Harus tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik.

3.       Tidak berbau atau kotor dan tidak merusak atau mewarnai pakaian.

4.       Mudah diperoleh dan harga terjangkau.

Cara pengobatannya seluruh anggota keluarga harus diobati (termasuk yang hiposensitisasi)

Obat topikal:

1.       Belerang endap (sulfir presipitatum) 4-20% dalam salep atau krim. Obat ini kurang efektif menghadapi stadium telur, maka penggunaannya tidak boleh kurang dari 3 hari. Kelemahnnya juga berbau dan mengotori pakaian dan kadang timbul iritasi. Dapat dipakai pada bayi kurang dari 2 tahun.

2.       Emulsi benzil benzoat 20-25%, efektif pada semua stadium, diberikan setiap malam selama 3 hari. Obat ini sulit diperoleh dan sering terjadi iritasi, bahkan bisa semakin gatal setelah dipakai.

3.       Gama Benzena Heksaklorida 1% dalam krim atau losio, efektid terhadap semua stadium, mudah digunakan dan jarang ada iritasi. Tidak dianjurkan untuk anak dibawah 6 tahun dan ibu hamil, karena toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemberian cukup sekali namun bila masih terinfeksi diulangi seminggu kemudian.

4.       Krotamiton 10% dalam krim atau losio mempunyai 2 efek sebagai antiskabies dan antigatal, harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra.

5.       Permetrin 5% dalam krim, kurang toksik dibanding gameksan dengan efekivitas sama, pemakaian cukup sekali dan dihapus setelah 10 jam. Bila belum sembuh diulangi seminggu kemudian. Tidak dianjurkan pada bayi di bawah 2 bulan.

6.       Obat lain: Lindane

7.       Antibiotik ivermectin untuk penderita Norwegian Scabies dan pasien dengan imunokompromi, dengan dosis 200 µg/ kg. Diberikan sekali.

DAFTAR PUSTAKA

1Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 2009. Edisi kelima. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, p. 119-125

2Rozaliyani A. Slide Kuliah Parasit Modul Kulit 2010. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Merokok Bukan Hak Asasi Manusia

Jakarta, Selama ini setiap ada larangan merokok, maka para perokok selalu berdalih bahwa merokok adalah hak asasi manusianya. Padahal merokok bukanlah hak asasi tapi hanya kebutuhan seseorang saja.

“Hak asasi manusia adalah sesuatu yang jika tidak terpenuhi bisa mengancam jiwa, tapi kalau merokok jika tidak terpenuhi tidak akan mengancam jiwanya. Jadi merokok bukanlah hak asasi,” ujar dr Hakim Sorimuda Pohan, SpOG dalam acara diskusi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ‘Mengembalikan Arah Kebijakan Pengendalian Tembakau yang Pro Kesehatan Masyarakat’ di sekretariat IDI, Jl dr Sam Ratulangi, Jakarta, Rabu (29/12/2010).

dr Hakim menuturkan salah satu contoh hak asasi adalah makan, jika seseorang tidak makan maka ia bisa meninggal. Sedangkan jika ada orang yang harus menggunakan minyak rambut untuk meningkatkan kepercayaan diri, maka hal tersebut adalah kebutuhan dan bukan hak asasi manusia.

“Selain itu menghirup lingkungan yang sehat dan bersih adalah salah satu hak asasi yang ada di dalam UUD’45. Karena asap rokok bisa mengganggu kesehatan dan kemanusiaan, jadi orang yang merokok tanpa menghormati tata cara merokok yang benar berarti ia orang yang tidak beradab,” ungkapnya.

Merokok adalah salah satu kebiasaan yang bisa membahayakan diri sendiri, lingkungan dan menyebabkan ketagihan, sehingga diperlukan aturan tersendiri untuk mengatur tata cara merokok.

Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2008, Indonesia merupakan negara pengguna rokok terbesar ketiga setelah China dan juga India. Dan berdasarkan survei AC Nielsen tahun 2009 diketahui produksi rokok di Indonesia sebesar 260 miliar batang rokok, sedangkan tahun 1970 produksinya hanya sebesar 35 miliar batang rokok.

“Kita tidak akan melarang orang yang sudah kecanduan rokok untuk berhenti, karena mereka sebenarnya sudah dewasa. Kalau kita sudah beri peringatan dan penyuluhan tapi ia tetap tidak mau berhenti, maka itu adalah cara kematian yang ia pilih sendiri,” ujar dr Hakim yang merupakan mantan anggota DPR Komisi IX.

dr Hakim menuturkan ada tiga jenis kematian, yaitu:

  1. Kematian yang tidak bisa dicegah (unpreventable death), misalnya jika seseorang yang sudah berusia di atas 90 tahun dan mengalami beberapa kali stroke, maka kematian yang terjadi sudah tidak bisa dicegah.
  2. Kematian yang bisa dicegah (preventable death), misalnya jika ada kecelakaan dan lambat mendapatkan pertolongan maka kematian yang terjadi sebenarnya bisa dicegah. Jenis kematian ini juga termasuk akibat merokok, karena kematian akibat rokok sebenarnya bisa dicegah jika seseorang berhenti mengonsumsi rokok.
  3. Kematian yang kemungkinan bisa dicegah (probably preventable death), misalnya ada anak muda yang ugal-ugalan, mengebut lalu mengalami kecelakaan yang menyebabkan kondisi parah, maka kematian yang terjadi kemungkinan bisa dicegah.

“Selama ini diketahui bahwa kematian adalah suatu takdir, tapi kematian akibat rokok sebenarnya bisa dicegah,” ungkapnya.

dr Prijo Sidipratomo, SpRad (K) selaku Ketua umum PB IDI menuturkan bahwa merokok bisa menyebabkan berbagai penyakit dan kecanduan yang ditimbulkan bisa membuat orang merasa cemas, gelisah atau efek lainnya. Tapi sayangnya saat ini jumlah perokok dikalangan generasi muda semakin meningkat, dan pada perempuan mengalami peningkatan sebesar 3 kali lipat.

Kesehatan merupakan salah satu hak asasi manusia yang harus diwujudkan sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Untuk itu jika seseorang ingin merokok sebaiknya tidak mencelakakan orang lain.

“Merokoklah secara beradab dan jangan mencelakakan orang lain. Jika ingin merokok maka nikmati rokok dan asapnya sendiri, misalnya dengan cara menutup muka menggunakan kantong plastik hitam yang tidak dibuka sampai rokoknya selesai, jadi asap dan rokoknya dihisap sendiri,” ujar mantan ketua IDI, dr Kartono Mohammad.

Sumber: http://www.detikhealth.com/read/2010/12/29/142337/1535179/763/merokok-bukan-hak-asasi-manusia?l991101755

Tatalaksana non-farmakologis rheumatoid arthritis

REHABILITASI

Tujuan dari rehabilitasi pasien RA (rheumatoid arthritis) secara umum mengembalikan kemampuan pasien seperti semula, secara khusus :

o    Mengurangi rasa nyeri

o    Mencegah terjadinya kekakuan dan keterbatasan gerak sendi

o    Mencegah terjadinya atrofi dan kelemahan otot

o    Mencegah terjadinya deformitas

o    Meningkatkan rasa nyaman dan kepercayaan diri

o    Mempertahankan kemandirian sehingga tidak bergantung pada orang lain

Beberapa cara dilakukan untuk mencapai tujuan dari rehabilitasi ini

Pengubahan Gaya Hidup

1) Istirahat dan latihan : Orang dengan RA membutuhkan istirahat dan latihan dalam jumlah yang seimbang, dengan istirahat lebih ketika RA aktif dan banyak latihan ketika RA tidak aktif. Istirahat berguna untuk meredakan inflamasi dan melawan kelelahan. Lama istirahat dianjurkan tidak terlalu lama.

Latihan berguna untuk menjaga kesehatan dan kekuatan otot, menjaga mobilitas sendi dan juga fleksibilitas. Latihan juga dapat membantu pasien tidur nyenyak, mengurangi rasa nyeri, dan menjaga keoptimisan dan menurunkan berat badan.

2) Perawatan sendi : Beberapa orang menggunakan splint untuk waktu yang singkat di sekitar sendi yang nyeri dengan mendukung sendi tersebut dan membiarkannya istirahat. Splint banyak digunakan di daerah pergelangan tangan dan tangan, akan tetapi ada juga di bagian lutut dan pergelangan kaki. Cara untuk mereduksi stress di sendi termasuk alat bantu mandiri (penarik resleting, dll)) alat bantu naik dan turun dari kursi, tempat duduk toilet, dan kasur.

3) Reduksi stres : Orang dengan RA biasanya mengalami stres emosional seperti pada penyakit lainnya. Emosi yang mereka rasakan karena ketakutan, kemarahan, dan frustasi terhadap penyakit yang dideritanya ditambah dengan kecacatan yang dia derita. Stres akan berpengaruh pada rasa nyeri atau sakit yang dirasakan. Berbagai teknik dilakukan untuk mengatasi stress ini, misalnya relaksasi, distraksi, dan latihan visualisasi. Partisipasi di kelompok pendukung, komunikasi yang baik dapat mengurangi stress.

4) Diet sehat : Sejauh ini peneliti belum menemukan kejadian untuk makanan yang dapat membantu atau memperparah kondisi RA ini, kecuali pada beberapa tipe minyak. Akan tetapi, asupan makanan yang cukup (meliputi kalori, protein, dan kalsium) ini penting. Beberapa pasien dengan obat tertentu untuk RA dilarang mengkonsumsi alkohol, seperti methrotexat yang berefek jangka panjang pada kerusakan hati.

5) Cuaca/Iklim : Beberapa orang menyadari RA makin parah bila terjadi perubahan iklim atau cuaca.  Akan tetapi efek cuaca terhadap kondisi RA belum diteliti secara spesifik. Pindah ke tempat dengan iklim yang berbeda dalam jangka waku yang lama tidak berpengaruh banyak pada kondisi RA.

 

Pembedahan

Beberapa jenis pembedahan tersedia untuk pasien dengan cedera sendi yang parah. Tujuan primer dari prosedur ini adalah untuk mengurangi rasa sakit, memperbaikin fungsi sendi yang rusak, dan meningkatkan kemampuan pasien untuk beraktivtas sehari-hari. Pembedahan ini tidak untuk semua orang, namun harus mempertimbangkan kondisi sendi pada pasien, alas an pembedahan, resiko dan keuntungan dari pembedahan, dan biaya serta aspek lainnya.

Berikut ini jenis pembedahan yang sering dilakukan

1) Penggantian sendi: Penggantian sendi dengan cara  membuang sebagian atau seluruh sendi yang rusak dan diganti dengan komponen sintesis. Akan dibahas di bagian artrhoplasti.

2) Arthrodesis (fusi): Arthrodesis adalah prosedur pembedahan dengan cara membuang sendi dan menyatukan dua tulang menjadi satu kesatuan yang immobil, sering menggunakan cangkok tulang dari pelvis pasien. Meskipun prosedur ini menyebabkan keterbatasan gerakan, hal ini berguna untuk meningkatkan stabilitas dan meredakan nyeri di sendi yang terkena. Sendi yang sering disatukan adalah pergelangan tangan dan pergelangan kaki  serta sendi di jari-jari atau ibu jari.

3) Rekonstruksi tendon: RA dapat merusak bahkan merupturkan tendon. Pembedahan yang banyak diaplikasikan pada bagian tangan ini merekonstruksi  tendon yang rusak dengan mengikatkan tendon yang utuh ke tendon yang rusak. Prosedur ini dapat membantu mengembalikan fungsi tangan, khususnya jika tendon rupture seutuhnya.

4) Sinovektomi: Pada pembedahan ini, dokter akan membuang jaringan synovial yang terinflamasi.  Sinovektomi sendiri jarang dilakukan sekarang karena tidak semua jaringan bisa dibuang, dan kadang-kadang dapat kambuh kembali. Sinovektomi dilakukan sebagai bagian dari pembedahan rekonstruktif, khususnya rekonstruksi tendon.

Arthroplasti

Arthoplasti adalah treatment terakhir, yaitu penggantian sendi yang rusak dengan sendi artifisial yaitu prosthesis dalam prosedur total joint replacement. Sendi prostesis ini dibuat pertama kali saat Perang Dunia II dan Perang Korea. Total Hip Replacement(THR) dilakukan pertama kali pada tahun 1963 di Inggris oleh dokter ortopedi Sir John Carnley. Sendi prostesis sekarang tersedia untuk jari, bahu, siku, panggul maupun lutut. Di Amerika, lebih dari 250.000 pasien menggunakan prostesis untuk mengembalikan fungsi tubuh ke keadaan semula yang terkena RA ataupun OA.

Gambar 1

Macam-macam prostesi (from Saladin: Anatomy and Physiology The Unity and Form Function 3rd ed [E-Book] p.321)

Prostesis yang baik harus kuat, tidak beracun, dan tahan korosi. Prostesis juga harus dapat tersambung dengan  tulang dan dapat bergerak sesuai dengan jarak normalnya dengan gesekan yang minim. Bagian kepala dari tulang panjang dibuat dari bahan logam campuran seperti kobalt-krom, titaniun alloy, stainless steel. Rongga sendi dan prostesis untuk tulang yang lebih kecil terbuat dari polietilen. Prostesis dihubungkan dengan tulang dengan sekrup atau semen tulang.

Penggantian panggul bertahan sebanyak 80-90% atau setidaknya 60% pada pergelangan kaki  selama 2-10 tahun kemudian. Kesahan terbanyak adalah terlepasnya prostesis dari tulang, namun hal ini dapat diatasi dengan porous-coated prostheses yang mana diinfiltrasi sendiri oleh tulang pasien dan membentuk ikatan yang lebih kuat. Prostesis sendiri tidak dianjurkan kepada pasien usia muda.

HAL-HAL LAIN YANG PERLU DIPERHATIKAN

  • Latihan rutin untuk menjaga mobilitas sendi dan memperkuat otot di sekitar sendi. Latihan seperti berenang bermanfaat karena tekanan pada sendi sangat minim
  • Splinting/Pembelatan berguna untuk mengurangu reaksi inflamasi dan menjaga bentuk sendi
  • Alat-alat seperti tongkat, toilet seat raisers, jar grippers dapat membantu aktivitas sehari-hari
  • Kompres dingin dan panas dapat meringankan gejala setelah latihan
  • Yang terakhir, pengontrolan keadaan emosi pasien sangat dibutuhkan dalam proses penyembuhan reumatoid artritis dan juga dukungan dari keluarga dan sahabat

 

DAFTAR PUSTAKA

1 Daud R, Adnan HM. 1996. Artritis Rematoid. Buku Ajar Ilmu Penyakit Penyakit Dalam vol. I ed. 3rd. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, p. 69-70

2 Saladin K.2003. Artritis and Artificial Joints. Saladin: Anatomy and Physiology The Unity and Form Function 3rd ed [E-Book]. Jakarta: The McGraw Hil Companies, p. 320-1

3 National Institue of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Disease. Rheumatoid Arthritis. Diunduh dari http://www.niams.nih.gov/Health_Info/Rheumatic_Disease/default.asp pada tanggal 20 Desember 2010 pukul 11.40 WIB

Menopause dan Osteoporosis

MENOPAUSE


DEFINISI

Menopause adalah waktu ketika wanita tidak lagi mengalami siklus menstruasi. Merupakan proses yang alami dan umumnya dialami oleh wanita berumur 45-51 tahun. Menopause terjadi saat ovarium berhenti mensekresikan hormon estrogen dan progesteron. Hal inilah yang akan mempengaruhi perubahan fisiologis pada tubuh wanita.

Menopause sendiri terdiri dari beberapa tahap. Tahap pertama menopausal transition atau lebih sering disebut perimenopause. Tahap ini berlangsung beberapa tahun sebelum menstruasi terakhir, kemudian tahap ini berakhir setahun setelah menstruasi terakhir. Setelah itu, wanita akan mengalami masa postmenopause dan berlangsung hingga akhir hayat.

TANDA DAN GEJALA

Seringkali menopause disebut dengan ‘perubahan hidup’, karena beberapa perubahan fisiologis terjadi, seperti:

  • Hot flashes. Hot flashes adalah perasaan panas yang tiba-tiba pada bagian atas tubuh atau seluruh tubuh. Hal ini mungkin dikarenakan oleh penurunan estrogen dalam tubuh. Bagian wajah dan leher menjadi flushed, dan red blotches akan tampak pada bagian dada, punggung dan lengan. Keringat dingin dan menggigil juga dapat menyertai gejala ini. Bahkan hot flashes ini dapat membangunkan wanita dari tidurnya. Hot flashes ini berlangsung dari 30 detik hingga 10 menit. Hot flashes terjadi pada beberapa tahun setelah menopause.
  • Gangguan tidur. Gangguan tidur seringkali ditemukan pada wanita tua. Bisa terjadinya karena tidak mudah terlelap ataupun bangun terlalu awal. Bangun di tengah malam juga sering karena keringat malam (night sweat) dan akan sulit untuk tidur lagi setelah terbangun.
  • Gangguan hubungan seksual. Pada menopause, penurunan gairah seksual seringkali terjadi. Dan setahun setelah menopause, wanita tidak dapat hamil, namun tetap bias berhubungan seksual. Tapi perlu diingat bahwa masih ada kemungkinan penularan penyakit melalui hubungan seksual seperti AIDS, gonorhoe, dan lainnya.
  • Gangguan pada  vagina dan kandung kemih. Kadar estrogen yang menurun dapat menyebabkan vagina dan bagian genital kering dan lebih tipis yang membuat hubungan seksual tidak nyaman. Infeksi pada vagina dan kandung kemih juga cenderung ditemukan pada wanita menopause. Banyak wanita yang tidak dapat menahan perasaan untuk buang air kecil dan ditemukan juga kasus wanita yang ‘mengompol’ ketika bersin, batuk, tertawa, atau berlari.
  • Gangguan mood. Wanita cenderung sensitive di usia yang sudah tua ini, akan tetapi sejauh ini peneliti belum mengetahui penyebab pastinya. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh stress, perubahan dalam keluarga seperti anak yang tumbuh dan orang tua yang sudah renta, riwayat depresi juga mengakibatkan perubahan suasana hati.
  • Perasaan tubuh yang berubah. Panggul akan semakin membesar, otot mengecil dan lemak menumpuk, kulit menipis, gangguan konsentrasi/ingatan dan kaku pada sendi merupakan hal umum pada wanita menopause.

EFEK PADA JANTUNG DAN TULANG

Dua gangguan kesehatan yang umum terjadi saat wanita mengalami menopause, bahkan seringkalo tidak disadari.

Osteoporosis. Hari demi hari, tubuh manusia mengalami pemecahan tulang yang tua dan digantikan dengan tulang yang lebih baru/muda. Estrogen sendiri berperan dalam mengontrol pemecahan tulang oleh osteoklas melalui mekanisme pemanggilan dengan interleukin 1 dan 6, dan hilangnya estrogen saat menopause akan mengakibatkan proses pemecahan tulang yang tua lebih banyak daripada proses regenerasinya sehingga tulang menjadi keropos, rapuh dan mudah patah. Ditambah lagi pada proses aging, aktivitas replikasi dari sel osteoprogenitor dan proliferasi osteoblas menjadi berkurang.

Faktanya, penyakit osteoporosis empat kali diderita lebih banyak daripada pria. Tulang wanita yang memiliki karakteristik lebih tipis, lebih ringan, dan beberapa faktor resiko lainnya seperti aktivitas fisik yang menurun, kurangnya paparan sinar matahari,  menyebabkan wanita lebih cenderung mengembangkan potensi osteoporosis ini.

Fakta lain tentang osteoporosis, tiap tahunnya 500.000 wanita di Amerika mengalami fraktur vertebrae, dan 300.000 wanita mengalami fraktur panggul. Antara 12-20% wanita yang mengalami fraktur panggul tidak dapat bertahan hidup 6 bulan setelah fraktur. Setidaknya setengah dari mereka yang bertahan hidup memerlukan bantuan untuk beraktivitas sehari-hari, 15-25% memerlukan fasilitas perawatan jangka panjang. Akan tetapi dengan waktu yang adekuat dan rehabilitasi yang baik, mereka dapat kembali ke aktivitas semula.

Penyakit Jantung. Setelah menopause, wanita lebih cenderung mengembangkan penyakit jantung, walaupun banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya penyakit jantung. Namun seiiring bertambahnya umur, wanita cenderung bertambah berat badannya.

TATALAKSANA UNTUK OSTEOPOROSIS PADA WANITA MENOPAUSE

  • Suplemen Kalsium. Kalsium adalah mineral yang menyusun tulang dan merupakan medikasi alami untuk osteoporosis. Apabila seseorang memiliki riwayat osteoporosis atau osteopeni ringan, dianjurkan mengonsumsi 1000mg kalsium, baik dari suplemen ataupun makanan.
  • Kalsitonin. Kalsitonin ini berfungsi menurunkan fungsi osteoklas dan akan menghambat resorbsi tulang. Kalsitonin dapat berupa injeksi ataupun nasal spray.
  • Estrogen pengganti. Merupakan metode yang efektif dalam mengeatasi osteoporosis pada wanita. Waniat dengan osteopeni ataupun osteoporosis dapat mengonsumsi estrogen untuk mencegah resorbsi tulang lebih lanjut dan memproduksi tulang baru dengan perkembangan tulang sekitar 5% selama 2 tahun. Penggunaan estrogen selama 5 tahun disarankan untuk mencegah fraktur, khususnya fraktur panggul dan vertebrae. Estrogen ini dapat dikonsumsi berupa pil maupun secara transdermal.
  • Selective Estrogen Receptor Modulators (SERMS). SERMS bekerja dengan memanipulasi reseptor estrogen yang tersebar di seluruh tubuh, termasuk tulang. SERMS bekerja dengan memblok reseptor estrogen di tempat tertentu sehingga estrogen bekerja optimal hanya di bagian tulang.
  • Bifosfonat. Bifosfonat menjadi pilihan bagi seseorang yang telah mengalami fraktur atau yang tidak bisa mengkonsumsi estrogen. Bifosfonat bekerja dengan menghentikan aktivitas osteoklas dan dapat mengurangi kemungkianan fraktur hingga 70%

PERAWATAN SELAMA MASA MENOPAUSE

Tetap sehat selama menopause harus didukung dengan beberapa perubahan gaya hidup

  • Hindari merokok
  • Makan makanan yang bergizi seimbang, rendah lemak, tinggi serat, dan kaya akan buah, sayur, dan biji-bijian utuh. Ditambah dengan suplemen vitamin dan mineral
  • Memperhatikan asupan kalsium dan vitamin D-bisa dalam makanan ataupun suplemen
  • Menjaga berat badan supaya tetap di kisaran berat badan ideal
  • Melakukan latihan weighbearing, seperti berjalan, jogging, atau senam setidaknya 3 kali seminggu untuk menjaga kesehatan tulang dan mencoba untuk aktif dalam kegiatan sehari-hari

Hal penting lain yang perlu diperhatikan

  • Selalu mengkonsumsi obat yang diresepkan dokter, apalagi bila obat tersebut untuk penyakit yang tidak terlihat dari luar tubuh seperti hipertensi, kolesterol, dan osteoporosis
  • Menggunakan pelumas vagina berbahan dasar air (bukan petroleum jelly) atau krim/tablet estrogen vagina untuk mengatasi ketidaknyamanan vagina
  • Melakukan cek berkala untuk pemeriksaan pelvis dan payudara, Pap tes dan mammogram. Pengecekan kanker kolon dan rektal juga diperlukan
  • Untuk wanita yang mengalami fraktur ataupun berusia diatas 65 tahun, perlu pengecekan BMD

 

DAFTAR PUSTAKA

1Gumay S, Pattiata R. Bones. Departemen Bedah Divisi Orthopaedi dan Traumatologi FKUI/RSCM. Desember 2008

2Anonim. Menopause. Diunduh dari http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ menopause.html pada tanggal 13 Desember 2010 pukul 10.20 WIB

3Anonim. Menopause. Diunduh dari http://www.nia.nih.gov/HealthInformation/Publications/menopause.htm pada tanggal 13 Desember 2010 pukul 11.40 WIB

4Cleveland Clinic Doctor. Menopause and Osteoporosis. Diunduh dari http://my.clevelandclinic.org/disorders/ menopause/hic_menopause_and_osteoporosis.aspx pada tanggal 14 Desember 2010 pukul 08.12 WIB

5Cornforth T. Osteoporosis and Menopause. Diunduh dari http://womenshealth.about.com/cs/menopaus1/a/ menoosteo1.htm pada tanggal 13 Desember 2010 pukul 12.13 WIB

Bone Healing, Komplikasi dan Prognosis Fraktur

BONE HEALING

Setiap tulang yang mengalami cedera, misalnya fraktur karena kecelakaan, akan mengalami proses penyembuhan. Fraktur tulang dapat mengalami proses penyembuhan dalam 3 tahap besar:

1. Fase inflamasi

Fase ini terjadi segera setelah tulang mengalami fraktur dan akan berakhir dalam beberapa hari. Ketika terjadi fraktur, terjadi perdarahan yang akan memicu reaksi inflamasi yangditandai dengan hangat dan pembengkakan. Inflamasi meliputi 1)pemanggilan sel inflamasi (makrofag, PMN) yang mensekresikan enzim lisosom untuk mencerna jaringan mati dan memanggil sel pluripoiten serta fibroblast oleh mekanisme prostaglandin dan 2) pembekuan darah di lokasi fraktur yang bernama Hematoma. Suplai oksigen dan nutrisi diperoleh dari tulang dan otot yang tidak terluka. Hal ini diperlukan untuk stabilisasi struktural awal dan sebagai fondasi untuk membentuk tulang baru. Fase ini merupakan fase paling kritis. Penggunaan obat antiinflamasi dan sitotoksik pada satu minggu awal akan mengganggu reaksi inflamasi dan menghambat penyembuhan tulang. Kelainan medikasi juga dapat mengganggu fase ini.

2. Fase perbaikan (bone production)

Fase ini diawali ketika jaringan bekuan darah hasil inflamasi digantikan dengan perlahan dengan jaringan fibrosa yang mensekresikan bahan osteoid yang perlahan termineralisasi dan juga bahan tulang rawan yang dinamakan “soft callus”. Pembentukan “soft callus” ini berlangsung kira-kira 4-6 minggu. Pada fase ini juga terdapat pembentukan pembuluh darah baru  dan dihambat oleh nikotin. Selama proses penyembuhan, “soft callus” akan digantikan dengan “hard callus” yang berisi tulang lamellar yang mana dapat dilihat dengan sinar X.  Fase pembentukan “hard callus” memerlukan waktu 3 bulan, dan fiksasi diperlukan untuk mendukung dan mempercepat osifikasi.

3. Fase remodelling

Tahap akhir ini memakan waktu beberapa bulan dan diperankan oleh osteoklas. Dalam fase ini, tulang terus menjadi kompak dan kembali ke bentuk semula. Dan juga aliran darah di area juga kembali. Ketika remodeling sudah adekuat (kekuatan tulang akan diperoleh kira-kira 3-6 bulan), weightbearing seperti berjalan dapat mendukung remodeling lebih lanjut.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES PENYEMBUHAN

1. Faktor sistemik

v  Umur: anak-anak lebih cepat sembuh daripada orang dewasa

v  Nutrisi: nutrisi yang tidak adekuat akan enghambat proses penyembuhan

v  Kesehatan umum: penyakit sistemik seperti diabetes dapat menghambat penyembuhan

v  Aterosklerosis: mengurangi penyembuhan

v  Hormonal: GF mendukung penyembuhan, kortikosteroid menghambat penyembuhan

v  Obat: obat antiinflamasi non-steroid (ibuprofen) mengurangi healing

v  Rokok : kandungan nikotin pada rokok menghambat penyembuhan di fase perbaikan

2. Faktor lokal

v  Derajat trauma lokal: fraktur yang kompleks dan merusak jaringan lunak sekitarnya lebih sulit sembuh

v  Area tulang yang terkena: bagian metafisis lebih cepat sembuh daripada bagian diafisis

v  Tulang abnoemal (tumor, terkena radiasi, infeksi) lebih lambat sembuh

v  Derajat imobilisasi: pergerakan yang banyak dapat menghambat penyembuhan, weighbearing dini

USAHA MEMPERCEPAT KESEMBUHAN

Pada semua pasien dengan fraktur tulang, imobilisasi adalah hal yang penting, karena sedikit gerakandari fragmen tulang menghambat proses penyembuhan. Tergantung dari tipe fraktur atau prosedur pembedahan, ahli bedah akan menggunakan bermacam alat fiksasi (seperti screws, plates, atau wires) ke tulang yang patah untuk mencegah tulang bergerak. Selama periode imobilisasi, weightbearing tidak diperbolehkan.

Jika tulang sembuh dengan adekuat, terapi fisik memegang kunci dalam rehabilitasi. Program latihan yang didesain untuk pasien dapat membantu mengembalikan kekuatan dan keseimbangan tulang dan membantu suapay dapat beraktivitas seperti semula.

Jika tulang tidak sembuh dengan baik atau gagal sembuh, dokter bedah ortopedi dapat memilih beberapa cara untuk meningkatkan pertumbuhan tulang,seperti imobilisasi lanjut untuk waktu lebih lama, stimulasi tulang, atau pembedahan dengan graft atau dengan bone growth protein.

KOMPLIKASI PADA FRAKTUR TULANG

1.    Komplikasi Dini

§  Cedera visceral

§  Cedera vaskuler

§  Cedera syaraf

§  Sindroma Kompartemen (Volkmann’s Ischemia)

Pada sindroma kompartemen, terjadi perdarahan disertai edema. Akibat dari edema ini, tekanan kompartemen osteofasial meningkat, sehingga sebagai akbiatnya kapiler di sekitar luka menurun, yang berujung pada iskemi otot. Karena iskemi otot, edema menjadi bertambah dan iskemik menjadi-jadi (sirkulus visiosus) dan akhirnya terjadi nekrosis otot dan saraf dalam kompartemen tersebut.

Setelah terjadi nekrosis, jaringan otot yang mati akan digantikan dengan jaringan fibrosis yang sifatnya tidak elastis yang akan membentuk kontraktur atau lebih dikenal sebagai Volkmann ischaemic contracture. Biasanya sindroma kompartemen ini diakbiatkan balutan atau gips yang terlalu kencang.

Pada bagian yang mengalami sindrom kompartemen, komplikasi beresiko tinggi yang sering muncul ialah fraktur siku, lengan atas, dan tibia proksimal. Sindroma kompartemen ini ditandai dengan 5P:

Ø Pain (rasa nyeri)

Ø Paresthesia (mati rasa)

Ø Pallor (pucat)

Ø Paralisis (kelumpuhan)

Ø Pulselessness (ketiadaan denyut nadi)

Tatalaksana dengan melakukan fasiotomi

§  Hemartrosis

§  Infeksi

2.    Komplikasi Lanjut

§  Delayed union

Delayed union terjadi bila estimasi waktu union tercapai namun belum union. Hal ini mungkin disebabkan oleh:

Ø Cedera jaringan lunak berat

Ø Suplai darah inadekuat

Ø Infeksi

Ø Stabilisasi tidak adekuat

Ø Traksi berlebihan

Tatalaksana dengan bone graft

§  Non-union (delayed union >6 bulan)

Pada non-union, tidak terjadi penyambungan tulang. Tulang hanya tersambung dengan jaringan fibrosis, sehingga pada daerah fraktur tulang dapat bergerak (pseudoarthrosis). Pada pemeriksaan dengan sinar X, masih terlihat dengan jelas garis fraktur. Penyebabnya adalah gangguan stabilitas.

Terdapat dua jenis non-union: atrofik (sedikit callus terbentuk, dapat diatasi dengan bone grafting) dan hipertrofik (terdapat kalus namun tidak stabil, umumnya akibat banyak pergerakan di lokasi fraktur)

§  Malunion

Pada malunion, fragmen fraktur menyatu dalam posisi patologis/deformitas(angulasi, rotasi, perpendekan). Malunion dapat mengganggu baik secara fungsional maupun kosmetik.

§  Kaku sendi

§  Hipotrofi/Atrofi otot

§  Miositis osifikans

Pada kelainan ini, terdapat osifikasi heterotopik pada otot. Biasanya terjadi pasca cedera, terutama pada dislokasi siku. Pada miositis osifikans, beberapa tanda muncul seperti bengkak local, nyeri tekan, gerak sendi yang terbatas.

Pada pemeriksaan dengan sinar X setelah lebih dari 2 minggu, tampak gambaran kalsifikasi pada otot.

Tatalaksana dengan eksisi massa tulang, indometasin, dan terapi radiasi.

§  Avascular necrosis

Cedera, baik fraktur maupun dislokasi, seringkali mengakibatkan iskemia tulang yang berujung pada nekrosis avaskular. Avascular necrosis ini sering dijumpai pada caput femoris, bagian proksimal dari os. Scapphoid, os. Lunatum, dan os. Talus.

§  Algodystrophy (Sudeck’s atrophy)

§  Osteoarthritis

WAKTU YANG DIBUTUHKAN UNTUK PENYEMBUHAN-PROGNOSIS

Waktu yang diperlukan untuk penyembuhan fraktur tulang sangat bergantung pada lokasi fraktur juga umur pasien. Rata-rata masa penyembuhan fraktur:

Lokasi Fraktur Masa Penyembuhan Lokasi Fraktur Masa Penyembuhan
1. Pergelangan tangan 3-4 minggu 7. Kaki 3-4 minggu
2. Fibula 4-6 minggu 8. Metatarsal 5-6 minggu
3. Tibia 4-6 minggu 9. Metakarpal 3-4 minggu
4. Pergelangan kaki 5-8 minggu 10. Hairline 2-4 minggu
5. Tulang rusuk 4-5 minggu 11. Jari tangan 2-3 minggu
6. Jones fracture 3-5 minggu 12. Jari kaki 2-4 minggu

 

Rata-rata masa penyembuhan: Anak-anak (3-4 minggu), dewasa (4-6 minggu), lansia (> 8 minggu)

Jumlah Kematian dari fraktur: 4,3 per 100.000 dari 1.302 kasus di Kanada pada tahun 1997

Tingkat kematian dari fraktur:

  • Kematian : 11.696
  • Insiden      : 1.499.999
  • 0,78% rasio dari kematian per insiden

 

 

DAFTAR PUSTAKA

1Fauzi A, Rahyussalim, Aryadi, Tobing SD. Cedera Sistem Muskuloskeletal. Departemen Bedah Divisi Orthopaedi dan Traumatologi FKUI/RSCM. Desember 2009

2Anonim. Principles of Bone Healing: Bone Healing Process. Diunduh dari http://www.medscape.com/ viewarticle/405699_6 pada tanggal 6 Desember 2010 pukul 10.20 WIB

3Anonim. Bone Fracture Healing. Diunduh dari http://www.orthoped.org/bone-fracture-healing.html pada tangga; 7 Desember 2010 pukul 07.44 WIB

4American Foot and Ankle College Surgeon. Bone healing. Diunduh dari http://www.foothealthfacts.org/ footankleinfo/Bone_Healing.htm pada tanggal 6 Desember 2010 pukul 11.08 WIB

5Kalfas IH. Principles of Bone Healing. Diunduh dari http://cnx.org/content/m27924/latest/20-Reading%20-%20Kalfas.pdf pada tanggal 7 Desember 2010 pukul 05.34 WIB

6Anonim. Bone Morphology and Fracture Healing. Diundu dari http://meds.queensu.ca/courses/msk/documents/ bone_morphology.pdf pada tanggal 7 Desember 2010 pukul 12.30 WIB

7Shih AT. Zainalabidin Z. Bone Healing. Diunduh dari http://www.headtotoehealthcare.org/library/Bone_Healing.pdf pada tanggal 7 Desember 2010 pukul 14.56 WIB

8Anonim. Prognosis og Bone Fracture. Diunduh dari http://www.wrongdiagnosis.com/f/fractures/prognosis.htm pada tanggal 7 Desember 2010 pukul 12.54 WIB

9Vorvick LJ. Bone Fracture Repair. Diunduh dari http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002966.htm pada tanggal 7 Desember 2010 pukul 10.00 WIB

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.