Update: My Second Costume Kamen Rider W Fang Joker

Update, lupa ditaroh di sini

Kista Epidermal

DEFINISI

Kista epidermal atau juga disebut dengan kista sebasea adalah kumpulan material seperti keratin, biasanya putih, licin, mudah digerakkan, dan cheesy di dalam dinding kista. Jenis kista ini merupakan yang paling umum. Secara klinis, kista epidermal muncul sebagai nodul bulat, keras berwarna daging. Kista epidermal umumnya memiliki lubang kecil yang berhubungan dengan kulit namun tidak selalu tampak jelas. Kista epidermal dapat terjadi di bagian kulit mana saja, akan tetapi lebih banyak ditemui di bagian wajah, scalp, telinga, dada, dan punggung. Tulang, payudara, genital, dan intracranial jarang ditemukan pada kista epidermal. Mukosa okuler dan oral juga bisa terkena serta di konjungtiva palpebra, bibir, mukosa mulut, lidah, skrotum, dan uvula.

Kista epidermal merupakan tumor jinak yang tidak perlu dihilangkan kecuali mengganggu secara kosmetik atau terinfeksi. Kista epidermal yang terinfeksi berwarna merah, bengkak, dan terasa nyeri. Bila hal ini terjadi, harus diterapi dengan antibiotik dan dieksisi bila sudah tidak mengalami inflamasi. Kunci dari penghilangan kista epidermal adalah menghilangkan seluruh dinding kista.

EPIDEMIOLOGI

Tidak ada predileksi menurut ras, namum kista epidermal lebih banyak dialami oleh individu dengan kulit gelap. Pada studi pasien Indian, 63% kista mengandung pigmen melanin.

Kista epidermal lebih banyak dua kali ditemukan pada pasien pria dibanding dengan pasien wanita. Kista epidermal dapat terjadi di usia kapanpun, namun banyak ditemukan kasus pada decade ketiga sampai keempat. Kista epidermal kecil yang disebut dengan millia umum ditemukan di neonatus.

PATOFISIOOGI

Kista epidermal terjadi akibat proliferasi sel epidermal dalam ruang yang sirkumskrip pada dermis. Pada analisis kista epidermal, struktur dan pola lipidnya sama seperti pada sel epidermis. Kista epidermis mengekspresikan sitokeratin 1 dan 10. Sumber dari epidermis ini hamper selalu dari infundibulum dari folikel rambut.

Inflamasi dimediasi oleh bagian berkeratin pada kista epdiermal. Pada penelitian, ekstrak keratin ini bersifat kemotaktif untuk PMN.

Penilitian menyebutkan HPV (Human Papilloma Virus) dan paparan sinar UV berperan dalam pembentukan kista epidermal.

Cara perubahan kista epidermal menjadi bersifat kanker belum diketahui secara pasti (walaupun jarang sekali kista epidermal berkembang menjadi tumor ganas). Pada kista epidermis dengan karsinoma, hasil imunohistokimia untuk HPV negatif, yang dapat disimpulkan HPV tidak mempengaruhi perubahan menjadi Karsinoma sel skuamosa. Iritasi kronik dan trauma berulang pada batas epitel dari kista epidermis berperan dalam transformasi keganasan, akan tetapi bagaimana hubungannya masih belum diketahui.

 

HISTOPATOLOGI

Pada pemeriksaan histopatologi, kista epidermal dibatasi dengan epitel skuamosa berlapis yang mengandung lapisan granuler. Keratin terlaminisasi ditemukan dalam kista. Respon inflamasi dapat ditemukan pada kista yang rupture. Kista yang sudah tua dapat terkalsifikasi.

PENYEBAB

Kista epidermal terbentuk dari beberapa mekanisme. Kista dapat diakibatkan sekuestrasi dari sisa epidermal selama kehidupan embrionik, oklusi dari unit pilosebaseus, atau trauma atau implantasi bedah dengan elemen eptelial. Infeksi HPV , paparan UV, dan oklusi kelenjar ekrin dapat menjadi faktor tambahan perkembangan kista epidermal palmoplantar. HPV juga telah teridentifikasi dalam kista epidermal nonpalmoplantar.

  • Kista epidermal kongenital dari fontanel anterior atau di bagian orogenital dapat diperkirakan oleh hasil sekuestrasi atau trapping sisa epidermal selama fusi embrionik selama perkembangan. Lesi di bibir dan mulut berkorelasi dengan fusi yang tidak sempurna dari lengkung brankial, sedangkan lesi genital disebabkan oleh  penutupan tak sempurna dari lipatan genital.
  • Semua proses kejinakan dan keganasan yang mempengaruhi atau tumbuh dekat unit pilosebaseus dapat berujung pada oklusi atau tumbukan  folikular ostia with formasi kista yang berikutnya. Kista dengan distrubusi yang bersifat acneiform umumnya akibat penyumbatan folikular. Pada manula, cedera sinar matahari yang terakumulasi dapat merusak unit pilosebaseus, menyebabkan abnormalitas seperti sumbatan komedo,  hiperkornifikasi, keduanya dapat menimbulkan kista epidermal. Kondisi ini disebut juga Sindrom Favre-Racouchot.
  • Kista epidermal yang sebenarnya diakibatkan impantasi elemen epidermal pada dermis. Beberapa cedera, khususnya tipe crushing, diasosiakan dengan subungual atau  kista epidermal terminal phalanges. Cedera hancur ketika membanting pintu mobil pada bagian digital sering dilaporkan. Prosedur bedah secara teori dapat menimbulkan kista epidermal. Formasi kista epidermal multipel dilaporkan setelah operasi plastik bagian hidung, pembesaran payudara, dan sedot lemak. Penggunaan cangkok dermal, cangkok miokutaneus, dan biopsy jarum juga diasosiasikan dengan timbulnya kista epidermal.
  • Sindrom herediter tertentu berasosisasi dengan kista epidermal, seperti Sindrom Gardner, Sindrom nevus sel basal, dan pachyonychia kongenital. Idiopathic scrotal calcinosis dapat ditemukan pada fase akhir dari kalsifikasi distrofik pada kista epidermal.

DIAGNOSIS BANDING

Kista Pilaris, Steatokistoma simpleks/multipleks, Lipoma, Kista Dermoid, Pachonychia kongenital, Sindrom Gartner, Kalsinosis Kutis, Millia

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pemeriksaan laboratorium tidak diperlukan, namun bila terjadi infeksi berulang atau tidak ada respon antibiotik, pengkulturan dapat dilakukan.

Bila kista epidermal ditemukan pada daerah yang tidak biasa terkena, seperti payudara, tulang, atau lokasi intracranial dapat dilakukan pencitraan dengan Ultrasonografi, Radiografi, CT Scan atau MRI.

Fine-needle aspiration juga dapat dilakukan untuk mendiagnosis kista epidermal di payudara. Pemeriksaan smears material yang diaspirasi dan diwarnai dengan Wright-Giemsa menunjukkan keratinosit berinti dan material keratin bergelombang.

PENGOBATAN

Pada umumnya kista epidermal tidak memerlukan pengobatan apapun. Bila menimbulkan gangguan dapat dieksisi, atau diseksi seluruh dinding kista dengan insisi. Bila bagian dinding tertinggal, kista dapat kambuh. Destruksi kista dengan kuret, cairan kimiawi, atau elektrodesikasi memberikan hasil kurang memuaskan.

Bila terjadi inflamasi, dapat dilakukan injeksi intralesi dengan triamcinolone (amcort, aristocort) yang dapat mensupresi migrasi PMN dan membuat sempit celah kapiler pembuluh darah. Antibiotik oral juga diberi bila perlu.

KOMPLIKASI

Komplikasi sangat jarang terjadi, termasuk infeksi, scarring pada penghilangan, dan kekambuhan. Keganasan pada kista epidermal sangat jarang.

 

DAFTAR PUSTAKA

1Hanson LJ. Epidermoid Cyst. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/1061582 pada tanggal 15 November 2010 pada pukul 10.55 WIB

2Brannon H. Epidermal Cyst. Diunduh dari http://dermatology.about.com/cs/benignlesions/g/epidermcyst.htm pada tanggal 15 November 2010 pada pukul 11.11 WIB

3Putra IB. Tumor-tumor Jinak Kulit. Diunduh dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3410/1/ 08E00609.pdf pada tanggal 15 November 2010 pada pukul 10.45 WIB

4FAM A Physician. Minimal Excision Technique for Removal of an Epidermoid Cyst. Diunduh dari http://www.aafp.org/afp/2002/0401/p1423.html pada tanggal 15 November 2010 pada pukul 10.36 WIB

Pedikulosis dan Skabies

PEDIKULOSIS

Pendahuluan:

Infeksi kulit/rambut pada manusia yang disebabkan oleh Pediculosis (dari family Pediculidae) dan yang menyerang manusia adalah Pediculus humanus yang bersifat parasit obligat (di dasar rambut) yang artinya harus menghisap darah manusia untuk mempertahankan hidup. Pedikulosis juga sangat mudah untuk menular dan dapat menularkan tifus endemik dan gatal kambuhan.

Klasifikasi:

1. Pediculus humanus capitis

2. Pediculus humanus corporis

3. Pthirus pubis (dulu Pediculus pubis)

 

A.        PEDIKULOSIS KAPITIS

a.       Definisi

Infeksi kulit dan rambut kepala yang disebabkan Pediculus humanus variasi capitis.

b.      Epidemiologi

Penyakit ini lebih menyerang anak-anak dan cepat meluas di lingkungan yang padat seperti asrama dan panti asuhan. Ditambah lagi jika kondisi hygiene tidak baik (misalnya jarang membersihkan rambut). Cara penula-rannya melalui peratntara, misalnya sisir, kasur, topi, dan bantal. Lebih banyak terjadi di kaum perempuan.

c.       Etiologi

Kutu ini mempunyai 2 mata dan 3 pasang kaki, berwarna abu-abu dan menjadi kemerahan jika telah menghisap darah. BEtina mempunyai ukuran yang lebih besar (panjang 1,2-3,2 mm lebar lebih kurang setengah panjangnya) daripada yang jantan  (sekaligus jumlahnya lebih sedikit).

Siklus hidupnya melalui stadium telur, larva, nimfa, dan dewasa. Telur (nits) diletakkan di sepanjang rambut dan mengikuti tumbuhnya rambut (makin ke ujung terdapat telur yang lebih panjang).

d.      Patogenesis

Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk menghilangkan gatal. Gatal ditimbulkan oleh liur dan eksreta kutu yang dikeluarkan ke kulit sewaktu menghisap darah.

e.      Gejala Klinis

Gejala yang dominan yaitu rasa gatal (terutama di daerah oksipital dan temporal). Karen ada garukan, maka terjadi erosi, ekskoriasi, dan infeksi sekunder (ada pus dan krusta). Bila infeksi sekunder berat, rambut akan menggumpal karena banyaknya pus dan krusta (plikapelonika) dan disertai pembesaran kelenjar getah bening regional (oksiput dan retroaurikular). Dalam keadaan ini menimbulkan bau busuk.

f.        Pembantu Diagnosis

Caranya dengan menemukan kutu atau telur. Telur berwarna abu-abu dan mengkilat. Juga digunakan sinar Wood yang akan menampakkan telur dan kutu berfluoresensi.

g.       Diagnosis Banding

1.       Tinea kapitis               2.    Pioderma (impetigo krustosa)            3.     Dermatitis seboroik

h.      Pengobatan

Pengobatan dilakukan dengan memusnahkan semua kutu dan telur dan mengatasi infeksi sekunder.  Pengobatan terbaik dilakukan secara topical dengan malathion 0,5-1% dalam bentuk lotio atau spray. Caranya: malam sebelum tidur rambut dicucui dengan sabun kemudian dipakai losio malathion, lalu kepala ditutup dengan kain. Keesokan harinya rambut dicucilagi dengan sabun lalu disisir dengan sisir bergerigi halus dan rapat. Pengobatan diulang seminggu sekali bila masih terdapat kutu. Akan tetapi, obat ini sulit didapat.

Yang mudah didapat di Indonesia adalah krim gama benzene heksaklorida (gameksan) 1%. Cara pemakaian: setelah dioleskan lalu didiamkan 12 jam, kemudian dicuci dan disisir agar semua kutu dan telur terlepas. Jika masih ada telur, pengobatan diulang secara berkala. Obat lainnya adalah emulsi benzl benzoat 25%.

Untuk infeksi sekunder, sebaiknya rambut dicukur dan diobati dengan antibiotika sistemik dan/atau topical, lalu disusul dengan obat yang telah disebutkan sebelumnya dalam bentuk shampoo. Higiene merupakan syarat supaya tidak terjadi residif.

Obat lainnya: Permethrin, Lindane, Pyrethrin.  NB : Pengulangan obat dilakukan 2-10 hari karena telur sulit diberantas.

 

B.        PEDIKULOSIS KORPORIS

a.       Definisi

Infeksi kulit yang disebabkan oleh Pediculus humanus corporis.

b.      Epidemiologi

Penyakit ini lebih menyerang dewasa terutama pada orang dengan hygiene buruk, misalnya pengembala karena mereka jarang mandi dan jarang mengganti dan mencuci pakaian, karena itu penyakit ini sering disebut Vagabond. Hal ini disebabkan kutu tidak melekat pada kulit, tetapi pada serat kapas di sela-sela lipatan pakaian dan hanya transien ke kulit untuk menghisap darah. Penyakit ini bersifat kosmopolit, lebih sering pada daerah beriklim dingin karena orang memakai baju tebal dan baju jarang dicuci.

c.       Cara Penularan

1.       Melalui pakaian

2.       Pada orang yang dadanya berambut terminal kutu ini dapat melekat pada rambut tersebut dan dapat ditularkan melalui kontak langsung.

d.      Etiologi

Pediculus humanus corporis betina mempunyai ukuran panjang 1,2-4,2 mm dan lebar kira-kira setengah panjangnya, sedangkan jantan relative lebih kecil. Siklus hidup sama dengan pedikulosis pada kepala.

e.      Patogenesis

Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk menghilangkan gatal. Gatal ditimbulkan oleh liur dan eksreta kutu yang dikeluarkan ke kulit sewaktu menghisap darah.

f.        Gejala Klinis

Umumnya hanya ditemukan kelainan berupa bekas garukan pada badan, karena gatal baru berkurang dengan garukan yang intens. Kadang timbul infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening regional.

g.       Pembantu Diagnosis

Caranya dengan menemukan kutu atau telur pada serat kapas pakaian.

h.      Diagnosis Banding

Neurotic excoriation

i.         Pengobatan

Pengobatan dengan krim gameksan 1% yang dioleskan tipis di seluruh tubuh dan didiamkan 24 jam, setelah itu baru pasien mandi. Jika belum sembuh bisa diulangi 4 hari kemudian. Obat lainnya yaitu emulsi benzil benzoat 25% dan bubuk malathion 2%. Pakaian deiberikan panas tinggi seperti direbus atau disetrika untuk membunuh telur dan kutu. Jika ada infeksi selunder bisa diberikan antibiotic sistemik atau topikal.

 

C.        PHTHIRUS PUBIS

a.       Definisi

Infeksi rambut di daerah pubis dan sekitarnya Phthirus pubis.

b.      Epidemiologi

Penyakit ini menyerang orang dewasa dan dapat digolongkan dalam PMS (Penyakit Menular Seksual), dapat juga menyerang daerah lain yang berambut, misalnya jenggot, kumis, bulu mata. Infeksi juga terjadi pada anak-anak di daerah alis dan bulu mata dan pada tepi batas rambut kepala.

c.       Cara Penularan

Umumnya dengan kontak langsung (juga hubungan seksual)

d.      Etiologi

Kutu ini berukuran panjang dan lebar yang sama (1-2 mm) pada betina. Pada jantan ukurannya lebih kecil.

e.      Patogenesis

Gejala gatal sama dengan pedikulosis.

f.        Gejala Klinis

Gejala yang dominan yaitu gatal di daerah pubis dan sekitarnya. Gatal dapat meluas sampai ke daerah abdomen dan dada, yang ditemukan bercak-bercak yang berwarna abu-abu-kebiruan yang disebut macula serulae. Walaupun kutu ini dapat dilihat dengan mata telanjang, kutu ini sulit dilepaskan karena kepalanya dimasukkan ke dalam muara folikel rambut.

Gejala lainnya adanya black dot, yaitu bercak-bercak hitam yang tampak jelas pada celana dalam berwarna cerah (atau putih) setelah bangun tidur. Bercak ini merupakan krusta darah yang disalahartikan sebagai hematuria. Kadang disertai dengan infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening regional.

g.       Pembantu Diagnosis

Mencari telur atau bentuk dewasa

h.      Diagnosis Banding

1.       Dermatitis Seboroika.            2.    Dermatomikosis

i.         Pengobatan

Pengobatan dengan krim gameksan 1% yang dioleskan tipis di seluruh tubuh dan didiamkan 24 jam, setelah itu baru pasien mandi. Jika belum sembuh bisa diulangi 4 hari kemudian. Obat lainnya yaitu emulsi benzil benzoat 25% dan bubuk malathion 2%. Pakaian deiberikan panas tinggi seperti direbus atau disetrika untuk membunuh telur dan kutu. Jika ada infeksi selunder bisa diberikan antibiotic sistemik atau topikal.

Sebaiknya rambut pubis dicukur dan pakaian dalam direbus dan disetrika. Mitra seksusal juga harus diperiksa dan jika perlu diobati.

 

SKABIES (The Itch, gudik, bulukan, gatal agogo)


a.       Pendahuluan

Pengetahun dasar diletakkan oleh Von Herbra, bapak Dermatologi Modern. Penyebabnya ditemukan pertamakali oleh Benomo pada tahun 1687 kemudian oleh Mellanby dilakukan percobaan induksi pada sukarelawan selama PD II.

b.      Definisi

Penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi yerhadap Sarcoptes scabiei var. hominis

c.       Epidemiologi

Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemic scabies. Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini: sosoekonomi rendah, hygiene yang buruk, hubungan seksual, kesalahan diagnosis, perkembanagn dermografik dan ekologik.  Penyakit ini juga digolongkan sebagai PMS.

d.      Cara penularan

1.       Kontak langsung (kontak kulit dengan kulit) misalnya jabat tangan, tidur bersama, atau hubungan seksual

2.       Kontak tak langsung, misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal, dll.

Penularannya oleh Sarcoptes scabiei betina yang sudah dibuahi atau kadang dalam bentuk larva. Ada juga Sarcoptes scabiei var. animalis pada mereka yang memelihara binatang peliharaan misalnya anjing.

e.      Etiologi

Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, super family Sarcoptes. Dengan varian yang menyerang manusia hominis.

Secara morfologik merupakan tungau kecil, oval, punggung cembung dan perutnya rata. Tungau ini translusen, berwarna putih kotor, dan tidak bermata.  Ukuran btina berkisar 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang jantan relatif kecil dengan ukuran 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang di depan sebagai alat melekat dan 2 di belakang (di betina ada rambut), sedangkan pada jantan pasangan kaki ketiga ada rambut dan keempat sebagai alat perekat.

Siklus hidup: Setelah kopulasi di atas kulit (jumlahnya kira-kira 10-15 tungau), jantan akan mati. Kemudian tungau betina yang sudah dibuahi menggali terowongan dalam startum korneum, dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari sambil meletakkan telurnya 2-4 butir sehari sampai jumlahnya mencapai 40-50, kemudian betina akan hidup sampai 30-60 hari. Kemudian telur menetas (dalam waktu 3-5 hari) dan menjadi larva dengan 3 pasang kaki. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa dengan 4 pasang kaki.

Siklus ini memerlukan waktu total 8-12 hari.

f.        Patogenesis

Kelainan disebabkan baik karena skabies maupun garukannya. Gatal yang terjadi disebabkan sensitisasi terhadap sekreta dan eksreta tungau yang memerlukan waktu sebulan setelah infestasi. Kelainan kulit menyerupai dermatitis juga ditemukan seperti papul, vesikel, urtika, dan lain-lain. Jika digaruk, terjadi erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder.

g.       Gejala Klinis

4 tanda kardinal:

1.       Pruritus nokturna (gatal pada malam hari karena aktivitas tungau tinggi pada suhu panas dan lembab)

2.       Menyerang manusia secara berkelompok (menyerang satu keluarga ataupun di lingkungan padat)

3.       Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat predileksi dengan warna putih keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, panjang 1 cm, pada ujung terowongan dijumpai papul atau vesikel.  Jika ada infeksi sekunder ruam kulit menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi). Tempat predileksi pada stratum korneum yang tipis: sela jari tangan, pergelangan tangan, siku luar, lipat ketiak depan, areola (wanita), umbilikus, bokong, genital eksterna (pria), perut bagian bawah. Pada wajah jarang terjadi. Pada bayi menyerang telapak tangan dan telapak kaki, aksila, dan skalp.

Circle of Hebra menunjukkan area dengan tempat predileksi tungau: Areola, Aksila, siku, pergelangan tangan, sela jari, umbilikus, abdomen bawah dan genitalia.

4. Menemukan tungau atau tahap diagnostik lainnya.

Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal ini.

Skabies Norwegia (skabies berkrusta)

Ditandai dengan dermatosis berkrusta pada tangan dan kaki (juga scalp), kuku yang distrofik, skuama generalisata, kadang ada hipekeratosis. Sangat menular tetapi rasa gatalnya sedikit. Tungau ditemukan dalam jumlah yang besar, biasanya dialami oleh penderita dengan retardasi mental, kelemahan fisik,malnutrisi,  gangguan imunologik, dan psikosis.

h.      Pembantu Diagnosis

Cara menemukan tungau:

1.       Cari mula-mula terowongan, kemudian pada ujung terlihat papul dan vesikel dicongkel dengan jarum dan diletakkan di atas kaca objek, lalu ditutup dengan kaca penutup,lalu dilihat dengan mikroskop.

2.       Dengan menyikat dengan sikat dan ditampung di atas selembar kertas putih dan dilihat dengan lup.

3.       Dengan biopsi irisan dengan cara lesi dijeit dengan 2 jari kemudian dibuat irisan tipis dengan pisau lalu diperiksa di mikroskop cahaya.

4.       Dengan biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan HE.

5.       Dengan memberi tinta di sekitar terowongan, terutama di bagian berbintik hitam.

i.         Diagnosing Banding

Penyakit ini disebut juga The Great Immitator karena menyerupai banyak penyakit kulit dengan keluhan gatal. Sebagai DD: prurigo, pedikulosis korporis, dermatitis.

j.        Pengobatan

Syarat obat ideal:

1.       Harus efektif terhadap semua stadium tungau

2.       Harus tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik.

3.       Tidak berbau atau kotor dan tidak merusak atau mewarnai pakaian.

4.       Mudah diperoleh dan harga terjangkau.

Cara pengobatannya seluruh anggota keluarga harus diobati (termasuk yang hiposensitisasi)

Obat topikal:

1.       Belerang endap (sulfir presipitatum) 4-20% dalam salep atau krim. Obat ini kurang efektif menghadapi stadium telur, maka penggunaannya tidak boleh kurang dari 3 hari. Kelemahnnya juga berbau dan mengotori pakaian dan kadang timbul iritasi. Dapat dipakai pada bayi kurang dari 2 tahun.

2.       Emulsi benzil benzoat 20-25%, efektif pada semua stadium, diberikan setiap malam selama 3 hari. Obat ini sulit diperoleh dan sering terjadi iritasi, bahkan bisa semakin gatal setelah dipakai.

3.       Gama Benzena Heksaklorida 1% dalam krim atau losio, efektid terhadap semua stadium, mudah digunakan dan jarang ada iritasi. Tidak dianjurkan untuk anak dibawah 6 tahun dan ibu hamil, karena toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemberian cukup sekali namun bila masih terinfeksi diulangi seminggu kemudian.

4.       Krotamiton 10% dalam krim atau losio mempunyai 2 efek sebagai antiskabies dan antigatal, harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra.

5.       Permetrin 5% dalam krim, kurang toksik dibanding gameksan dengan efekivitas sama, pemakaian cukup sekali dan dihapus setelah 10 jam. Bila belum sembuh diulangi seminggu kemudian. Tidak dianjurkan pada bayi di bawah 2 bulan.

6.       Obat lain: Lindane

7.       Antibiotik ivermectin untuk penderita Norwegian Scabies dan pasien dengan imunokompromi, dengan dosis 200 µg/ kg. Diberikan sekali.

DAFTAR PUSTAKA

1Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 2009. Edisi kelima. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, p. 119-125

2Rozaliyani A. Slide Kuliah Parasit Modul Kulit 2010. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.